-SEBATAS TAWANAN-
Bangsaku lahir dari sebuah kekuatan
Berdiri pada pundak tangguh yang menjadi tumpuan
Dialiran darah yang setiap hari mengucur bertetesan
Bangsaku tidak tumbuh dari kekerasan
Bangsaku mencari sebuah keadilan
Pada banyaknya tangan yang tak memberi pertanggung jawaban
Pendapat sederhana yang terkadang mematikan
Bangsaku sangat rentan pada kekuasaan
Bangsaku menjunjung segala persatuan
Ciri khas yang bermacam menjadi kebudayaan
Suku ras yang beragam menjadi pengikat persaudaraan
Bangsaku tidak menciptakan sebuah perpecahan
Bangsaku kini telah merasakan kemerdekaan
Terhapus sudah segala peperangan
Tertinggal sisa-sisa sebuah kemenangan
Bangsaku sangat dijaga agar tidak lagi dikalahkan
Aku lahir dari sebuah kekuatan
Aku mencari sebuah keadilan
Aku menjunjung segala persatuan
Aku sudah merasakan kemerdekaan
Aku tidak ingin ada kekerasan, apalagi kekuasaan
Aku tidak ingin ada perpecahan, apalagi membuat penderitaan
Aku bukanlah seorang pahlawan
Aku adalah seorang tawanan, yang mengharap sebuah keadilan
-BAMBU RUNCING-
Sebelum tahun 1945
Tanah air masih penuh luka
Harum jalan darah pemuda
Bertahun-tahun bersemayam dalam duka
Sebelum (mereka) datang membakar
Semangat harus tetap berkobar
Padam dendam dengan air mata
Kalah atau menang harga mati negara
Sebelum Sang Saka berkibar tenang
Tanah air masih terkenang
Dekap hangat Ibu Pertiwi
Pastikan selamanya kita abadi
Bambu runcing!!!
Pekik tancap tajam
Teriakan lantang memecah meriam
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
-KEPADA SANG PENGUASA-
Kepada sang penguasa...
Coba rasakan sedikit saja hiruk pikuk embun pagi yang teduh
Cahaya matahari yang begitu sunyi
Lihatkah apa yang kami lihat
Kepada sang penguasa...
Tinggalkan yang sering kau rasakan
Cahaya lampu yang begitu ramai
Kau tahu banyak hal semu yang menipu
Kepada sang penguasa...
Coba rasakan malam dingin yang kami jadikan selimut pribadi
Gerobak dorong yang membawa kami pergi kesana kemari
Kaki kami berdarah tanpa asuransi
Kepada sang penguasa...
Tinggalkan tempat persembunyian megah hangatmu
Alat transportasi yang sudah tak cukup didalam istanamu
Kau tahu negara siap sedia menanggung sakitmu
Kepada sang penguasa...
Coba rasakan luka kami yang belum juga mengering
Panas dan terik yang selalu menggiring
Jiwa kami bukan sekedar nafsu belaka
Kepada sang penguasa...
Tinggalkan asusmsi yang tak pernah tersaring
Jika kehebatan hanya sekedar mengasah taring
Kau tahu kritis kami juga bisa nyaring

Tidak ada komentar